[{"data":1,"prerenderedAt":143},["ShallowReactive",2],{"contact":3,"sosmed":12,"categories":28,"detailArticle-cyur0248":55,"tajuk-sidebox-cyur0248":75},{"data":4},[5],{"lokasi":6,"email":7,"phone":8,"created_at":9,"updated_at":10,"deleted_at":11},"\u003Cp>Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270 \u003C/p>\u003Cp>Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640\u003C/p>\u003Cp>\u003C/p>","balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id","081111815957","2024-05-14 14:40:48","2025-10-08 18:55:59",null,{"data":13},[14,19,24],{"sosmed_name":15,"url":16,"created_at":17,"updated_at":18,"deleted_at":11},"X","https://x.com/balai_budaya","2024-05-31 12:17:33","2024-05-31 14:34:37",{"sosmed_name":20,"url":21,"created_at":22,"updated_at":23,"deleted_at":11},"TikTok","https://www.tiktok.com/@balaimediabudaya","2024-05-31 14:34:06","2024-05-31 14:35:06",{"sosmed_name":25,"url":26,"created_at":27,"updated_at":27,"deleted_at":11},"Instagram","https://www.instagram.com/balai_budaya/","2024-05-31 14:35:54",[29,35,38,41,44,48,52],{"category_hashid":30,"category_name":31,"tag_hashid":32,"tag_name":33,"count":34},"wglf0007","INFO","adye0046","Surat Keputusan","1",{"category_hashid":30,"category_name":31,"tag_hashid":36,"tag_name":37,"count":34},"itcq0033","Rencana Aksi",{"category_hashid":30,"category_name":31,"tag_hashid":39,"tag_name":40,"count":34},"ivfe0034","Rencana Kerja Kementerian Tahun 2025",{"category_hashid":30,"category_name":31,"tag_hashid":42,"tag_name":43,"count":34},"lczy0026","Juknis",{"category_hashid":30,"category_name":31,"tag_hashid":45,"tag_name":46,"count":47},"rwme0031","Rencana Strategis","2",{"category_hashid":30,"category_name":31,"tag_hashid":49,"tag_name":50,"count":51},"yksh0021","Laporan Kinerja","5",{"category_hashid":30,"category_name":31,"tag_hashid":53,"tag_name":54,"count":34},"ziyr0047","Maklumat Pelayanan",{"title":56,"date":57,"slug":58,"content":59,"created_at":60,"updated_at":61,"deleted_at":11,"author":62,"author_title":63,"hashid":64,"category_hashid":65,"tag_hashid":66,"visitor":67,"category_name":68,"tag_name":69,"full_count":34,"media":70,"pdf_download":11},"Habis Mewarisi Terbitlah Tugas Mewariskan","2026-06-23 00:00:00","habis-mewarisi-terbitlah-tugas-mewariskan","\u003Cp>Pada 17-18 Juni 2026 lalu dalam Sidang Umum ke-11 Negara-Negara Pihak Konvensi 2003 UNESCO yang diselenggarakan di Markas Besar UNESCO di Paris, Perancis, Indonesia terpilih menjadi anggota Komite Pelindungan Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO (Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO atau ICH UNESCO) periode 2026–2030. Sebuah kehormatan serta pengakuan terhadap segala upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh pemangku kepentingan bidang Kebudayaan di Republik Indonesia ini.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Indonesia sebagai bangsa \u003Cem>mega-diversity \u003C/em>merupakan negara yang kaya akan budaya dan alamnya. Perkembangan budaya di Indonesia sangatlah beragam jika mengacu kepada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 yang menetapkan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. Setiap OPK memiliki potensi untuk mengungkap nilai-nilai budaya yang substantif dan relevan dengan kebutuhan pembangunan masa kini.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Menurut rilis Badan Pusat Statistik jumlah suku bangsa di Indonesia mencapai 1340 kelompok etnik, tentu betapa besarnya Objek Pemajuan Kebudayaan yang terdapat dari kelompok etnis tersebut. Dari 10 OPK yang terdapat dari beragam kelompok etnis tersebut, Indonesia memiliki tugas serta kewajiban untuk melindungi semua warisan budaya takbenda di Indonesia melalui berbagai tahapan mulai dari identifikasi, inventarisasi, penelitian, preservasi, melakukan percepatan pemajuan agar tidak tercerabut dari akar budayanya, menyampaikan nilai budaya melalui&nbsp; pendidikan usia dini, pendidikan non formal (sanggar, perkumpulan, kursus-kursus), dan pendidikan formal (pendidikan dasar sampai perguruan tinggi), serta melibatkan berbagai elemen seperti pegiat budaya, komunitas, kelompok sosial, dan perseorangan. Kesadaran untuk melestarikannya melalui transmisi budaya dari generasi ke generasi, untuk terus berjuang agar warisan budaya takbenda ini dapat tetap lestari. Betapa pentingnya mencintai warisan budaya milik sendiri agar disadarkan untuk lebih bangga dan cinta pada budaya bangsa Indonesia. Pemangku kepentingan bidang kebudayaan, yakni Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan masyarakat Indonesia perlu berupaya melakukan langkah-langkah penyelamatan warisan alam dan budaya yang terancam punah; menyiapkan bahan masukan untuk penyusunan kebijakan dan strategi pemerintah; serta mempermudah sekalgus penguatan mekanisme pelestarian. Perjuangan Indonesia untuk mendapatkan pengakuan warisan budaya takbenda dari UNESCO juga tidak sebatas untuk menghindari adanya klaim budaya dari bangsa lain, melainkan juga menghindari adanya protes bangsa lain terhadap apa yang dimiliki Indonesia.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Lalu ke depannya apa yang perlu dilakukan setelah Indonesia menjadi anggota komite tersebut, bukanlah hal yang mudah. Mata dunia tentu akan tetuju kepada keberhasilan meraih posisi tersebut. Kesuksesan pengimplementasian Undang-undang No. 5 Tahun 2017 akan menjadi model dan modal pengetahuan bagi negara-negara lain dalam melindungi warisan budaya takbenda yang mereka miliki. Metode dan etika kerja pelestarian warisan budaya takbenda yang bertahun-tahun dilakukan oleh pegiat budaya di negeri ini akan menjadi sorotan dunia. Tantangan bagi kita pemangku dan pegiat budaya untuk mentransfer praktik-praktik baik kita selama ini menjadi pengetahuan bersama dalam mengelola peradaban dunia. Sebuah pencapaian serta strategi tepat bagi pemerintah kita untuk menjadikan Indonesia sebagai ibu kota keberagaman budaya. Proses kerja pemangku kebudayaan baik di pusat maupun daerah dalam mengelola sumber daya budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu apakah hanya berakhir sebagai pengelolaan tinggalan masa lalu belaka yang hanya menjadi kenangan semu yang terdokumentasikan namun tidak dilestarikan oleh para ahli waris di masa kini atau mungkin idealnya kita tidak hanya jadi pengelola warisan budaya namun dapat menjadi pewaris baru tinggalan budaya untuk generasi kemudian.\u003C/p>","2026-06-23 08:25:13","2026-07-07 12:20:43","Jaka Perbawa, S.S. M.Hum.","Balai Pelestarian Kebudayaan Lampung","cyur0248","ziyt0006","tkcu0008",11,"TAJUK","Budaya",[71],{"url":72,"caption":73,"details":74,"created_at":60,"updated_at":60,"deleted_at":11},"https://berkas.cloud-idn.kotakkreasi.com/cmsbmk/2026/06/23/xhncosjeikrfbalwzmdpqgyv20260623082323.jpeg","","null",{"data":76,"meta":138},[77,93,97,111,123],{"title":78,"date":79,"slug":80,"content":81,"created_at":82,"updated_at":83,"deleted_at":11,"author":84,"author_title":73,"hashid":85,"category_hashid":65,"tag_hashid":86,"visitor":87,"category_name":68,"tag_name":88,"media":89},"Sastra Klasik Tak Pernah Usang, Hanya Menunggu untuk Dibaca Kembali","2026-07-03 00:00:00","sastra-klasik-tak-pernah-usang-hanya-menunggu-untuk-dibaca-kembali","\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengakses bacaan. Di tengah dominasi konten digital yang serba cepat, karya sastra klasik kerap kurang mendapat perhatian, terutama dari generasi muda. Oleh sebab itu, penyelenggaraan Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan menjadi langkah yang patut diapresiasi sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan sekaligus memperkenalkan kembali kekayaan sastra Indonesia kepada masyarakat.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sastra Indonesia ini memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar pembacaan karya sastra. Acara tersebut menghadirkan para sastrawan, seniman, penerjemah, akademisi, komunitas sastra, hingga generasi muda dalam satu ruang. Kehadiran tokoh-tokoh sastra nasional, seperti Taufiq Ismail dan Putu Wijaya, bersama sejumlah seniman lintas generasi menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sastra Indonesia. Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang apresiasi terhadap karya sastra, tetapi juga ruang untuk mempertemukan pengalaman, memperluas wawasan, serta mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru yang relevan dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaan\u003C/p>\u003Cimg src=\"https://berkas.cloud-idn.kotakkreasi.com/cmsbmk/2026/07/03/wfdbltkjonvpuxzeqasrighc20260703120849.jpeg\" alt=\"Melalui suara dan penghayatannya, Putu Wijaya menghidupkan makna puisi dalam Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia\">\u003Cp style=\"text-align: center;\">\u003Cem>Melalui suara dan penghayatannya, Putu Wijaya menghidupkan makna puisi dalam Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia\u003C/em>\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Salah satu capaian penting dalam kegiatan ini adalah peluncuran enam karya sastra klasik Indonesia yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Keenam karya tersebut meliputi Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Dua Dunia karya Nh. Dini, Tanah Gersang karya Mochtar Lubis, Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang, Balada Orang-Orang Tercinta karya W.S. Rendra, serta Kehilangan Mestika karya Fatimah Hassan Delais. Pemilihan karya-karya tersebut mencerminkan keberagaman generasi, daerah, dan gaya kepenulisan dalam khazanah sastra Indonesia yang layak diperkenalkan kepada masyarakat dunia.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Peluncuran enam karya tersebut bukan hanya menjadi bentuk pelestarian warisan sastra nasional, tetapi juga bagian dari strategi membuka peluang internasionalisasi sastra Indonesia. Melalui program penerjemahan, karya-karya sastra Indonesia diharapkan dapat hadir di perpustakaan, institusi budaya, festival sastra, hingga pameran buku internasional. Langkah ini menjadi bagian dari diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas Indonesia melalui karya sastra, sehingga pembaca internasional dapat mengenal nilai-nilai kemanusiaan, sejarah, dan kebudayaan yang terkandung di dalamnya.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Selain penerjemahan karya sastra klasik, Kementerian Kebudayaan juga terus memperkuat ekosistem sastra melalui berbagai program strategis. Upaya tersebut dilakukan dengan membina komunitas sastra, menyelenggarakan festival sastra, mengembangkan laboratorium penerjemah dan promotor sastra, serta memberikan Translation Funding Program (TFP) bagi penerbit luar negeri yang ingin menerjemahkan dan menerbitkan karya sastra Indonesia. Berbagai langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperluas akses sastra Indonesia ke tingkat global sekaligus memberikan ruang yang lebih besar bagi para penulis Indonesia untuk dikenal di dunia internasional.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Hal menarik lainnya adalah konsep pertunjukan yang memadukan pembacaan sastra dengan seni pertunjukan, musik, dan koreografi. Penyajian seperti ini mampu memberikan pengalaman yang lebih menarik bagi masyarakat sehingga sastra klasik tidak lagi dipandang sebagai karya yang sulit dipahami atau hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Sebaliknya, sastra hadir dalam bentuk yang lebih dekat, komunikatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.\u003C/p>\u003Cp>&nbsp;\u003C/p>\u003Cimg src=\"https://berkas.cloud-idn.kotakkreasi.com/cmsbmk/2026/07/03/urwmtoevzsyblxgnhpiqdfac20260703121056.jpeg\" alt=\"Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia menghadirkan karya-karya sastra dalam balutan seni pertunjukan yang komunikatif dan memikat.\">\u003Cp style=\"text-align: center;\">\u003Cem>Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia menghadirkan karya-karya sastra dalam balutan seni pertunjukan yang komunikatif dan memikat.\u003C/em>\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Lebih dari itu, karya sastra klasik menyimpan banyak pesan mengenai nilai kemanusiaan, perjuangan, cinta tanah air, serta kehidupan sosial yang masih relevan hingga saat ini. Membaca karya-karya tersebut bukan berarti bernostalgia terhadap masa lalu, melainkan memahami pengalaman dan pemikiran para pendahulu sebagai bekal menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dalam perspektif pembangunan kebudayaan nasional, pelestarian sastra merupakan bagian penting dari upaya menjaga identitas bangsa. Di tengah meningkatnya interaksi budaya global, bangsa yang mampu merawat warisan budayanya akan memiliki fondasi yang lebih kuat dalam memperkenalkan jati dirinya kepada dunia. Oleh karena itu, kebijakan Kementerian Kebudayaan yang menempatkan sastra sebagai salah satu fokus pemajuan kebudayaan layak memperoleh dukungan dari berbagai pihak.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Ke depannya, kegiatan seperti Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia diharapkan dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak kalangan, khususnya pelajar, mahasiswa, komunitas literasi, serta masyarakat luas. Pemanfaatan platform digital juga dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas akses terhadap karya sastra klasik sehingga semakin banyak generasi muda yang mengenal dan mencintai warisan sastra Indonesia.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, sastra bukan hanya kumpulan karya tulis, tetapi juga rekam jejak perjalanan bangsa yang mengandung nilai-nilai kehidupan, sejarah, dan kebudayaan. Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, Kementerian Kebudayaan menunjukkan komitmennya dalam menjaga keberlangsungan warisan sastra Indonesia sekaligus memperkuat posisinya sebagai bagian dari identitas nasional. Upaya tersebut menjadi langkah positif dalam memastikan bahwa sastra Indonesia terus hidup, berkembang, dan dikenal tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di panggung dunia.\u003C/p>","2026-07-03 12:13:11","2026-07-07 12:23:40","Balai Media Kebudayaan","jdty0250","zcvg0048","10","Sastra",[90],{"url":91,"caption":92,"details":74,"created_at":82,"updated_at":82,"deleted_at":11},"https://berkas.cloud-idn.kotakkreasi.com/cmsbmk/2026/07/03/bknwadvcxlgoymstupqhizrj20260703120339.jpeg","Menteri Kebudayaan Fadli Zon meluncurkan enam buku terjemahan karya sastra klasik Indonesia ke dalam bahasa Inggris dalam kegiatan \"Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia\"",{"title":56,"date":57,"slug":58,"content":59,"created_at":60,"updated_at":83,"deleted_at":11,"author":62,"author_title":63,"hashid":64,"category_hashid":65,"tag_hashid":66,"visitor":94,"category_name":68,"tag_name":69,"media":95},"11",[96],{"url":72,"caption":73,"details":74,"created_at":60,"updated_at":60,"deleted_at":11},{"title":98,"date":99,"slug":100,"content":101,"created_at":102,"updated_at":103,"deleted_at":11,"author":84,"author_title":73,"hashid":104,"category_hashid":65,"tag_hashid":66,"visitor":105,"category_name":68,"tag_name":69,"media":106},"100 Tahun Jam Gadang: Detak Waktu yang Menyatukan Sejarah, Budaya, dan Masa Depan","2026-06-18 00:00:00","100-tahun-jam-gadang-detak-waktu-yang-menyatukan-sejarah-budaya-dan-masa-depan","\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Tahun 2026 menjadi momen yang sangat istimewa bagi masyarakat Bukittinggi dan Sumatera Barat. Menara Jam Gadang, ikon kebanggaan yang telah berdiri kokoh di jantung Kota Bukittinggi sejak tahun 1926, genap berusia satu abad. Selama seratus tahun, dentang jam dari menara megah ini tidak hanya menandai perjalanan waktu, tetapi juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting yang membentuk sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Minangkabau. Peringatan satu abad Jam Gadang pun menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang tersebut sekaligus menatap masa depan dengan optimisme.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Jam Gadang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan mulai berdiri pada tahun 1926. Pada tahun 2025, bangunan ikonik ini ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional oleh Kementerian Kebudayaan. Menara ini merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada \u003Cstrong>H.R. Rookmaaker\u003C/strong> sebagai bentuk penghargaan atas jasa yang diberikan. Pembangunannya dirancang oleh arsitek lokal Yazid Rajo Mangkuto dengan biaya sekitar 3.000 gulden. Sejak awal berdirinya, Jam Gadang telah menjadi penanda penting bagi kota yang berada di dataran tinggi Minangkabau tersebut. Fungsinya tidak hanya sebagai penunjuk waktu, tetapi juga merekam berbagai peristiwa sejarah dan dinamika kehidupan masyarakat. Seiring perjalanan waktu, Jam Gadang berkembang menjadi simbol identitas Kota Bukittinggi, ruang berkumpul warga, pusat berbagai kegiatan budaya, serta landmark yang dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Keistimewaan Jam Gadang tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada rancangan arsitekturnya yang unik. Menara ini dibangun tanpa menggunakan besi penyangga maupun semen seperti bangunan modern pada umumnya. Sebagai perekat, digunakan campuran kapur, putih telur, dan pasir putih yang menunjukkan kecanggihan teknik konstruksi pada zamannya. Selain itu, Jam Gadang memiliki empat tingkat fungsional yang masing-masing berperan penting dalam mekanisme menara, mulai dari ruang petugas, tempat bandul jam, ruang mesin utama, hingga puncak menara tempat lonceng berada. Keunikan lainnya terlihat pada penulisan angka Romawi \"IIII\" untuk angka empat, berbeda dengan penulisan yang lazim menggunakan \"IV\". Detail-detail tersebut menjadikan Jam Gadang sebagai salah satu bangunan bersejarah yang memiliki karakter khas dan nilai arsitektural tinggi.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Perjalanan satu abad Jam Gadang juga tercermin dari perubahan bentuk fisiknya. Saat pertama kali dibangun, puncak menara berbentuk kubah dengan patung ayam jantan yang dipercaya melambangkan semangat membangunkan masyarakat setiap pagi. Seiring perubahan zaman, bentuk atap tersebut mengalami beberapa kali pergantian. Setelah Indonesia merdeka, puncak menara kemudian diubah menjadi bentuk gonjong khas rumah adat Minangkabau yang masih dapat dilihat hingga sekarang. Perubahan ini bukan sekadar penyesuaian estetika, melainkan simbol transformasi identitas dari masa kolonial menuju peneguhan jati diri budaya lokal.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Di balik keindahan arsitekturnya, Jam Gadang juga menyimpan kisah perjuangan bangsa. Menara ini menjadi saksi semangat rakyat Bukittinggi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dikutip dari buku “Pemuda dan Proklamasi: “Gerakan Pemuda Merealisasi Proklamasi dan Mewujudkan Pemerintah RI di Bukittinggi” karangan Masminar Makah dan Syahbuddin, salah satu peristiwa paling bersejarah terjadi pada 27 September 1945, ketika bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan di puncak Jam Gadang. Ribuan warga tumpah ruah memenuhi kawasan sekitar menara untuk menyaksikan momen tersebut. Dengan penuh keberanian, para pemuda memanjat puncak menara, mencopot bagian atap sebagai simbol berakhirnya kekuasaan Jepang, lalu mengibarkan Sang Saka Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya dan pekik kemerdekaan yang menggema di seluruh kota. Sejak saat itu, Jam Gadang tidak hanya menjadi simbol Bukittinggi, tetapi juga monumen perjuangan dan kebanggaan nasional.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Perjalanan sejarah yang panjang itu belum berhenti. Pada masa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958–1961, kawasan sekitar Jam Gadang kembali menjadi saksi pertempuran yang menelan banyak korban. Peristiwa tersebut menambah lapisan sejarah pada bangunan ini sebagai saksi bisu berbagai dinamika perjalanan bangsa.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Memasuki usia ke-100 tahun, Pemerintah Kota Bukittinggi menggelar perayaan besar bertema “Jam Gadang, Detak Jantung Ibukota”. Tema ini menggambarkan peran Jam Gadang yang selama satu abad menjadi pusat denyut kehidupan kota, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Perayaan berlangsung selama hampir tiga minggu, mulai 3 hingga 21 Juni 2026, dan menghadirkan lebih dari 250 delegasi dari 38 negara. Kehadiran para tamu internasional tersebut menunjukkan bahwa Jam Gadang bukan lagi sekadar ikon lokal, melainkan simbol budaya yang memiliki daya tarik global.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Rangkaian kegiatan yang diselenggarakan mencerminkan semangat untuk menjadikan peringatan ini sebagai perayaan pengetahuan, seni, budaya, dan persahabatan antarbangsa. Berbagai kegiatan literasi internasional membuka peringatan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan seni, pameran budaya, lomba fotografi, lomba cipta puisi, hingga berbagai program edukatif yang mengangkat sejarah dan warisan budaya Minangkabau.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Puncak perayaan berlangsung pada 20 Juni 2026 menjadi malam yang bersejarah dengan tiga rangkaian acara puncak. Pertama, Seminar Internasional bertajuk “Memperkuat Hubungan Diplomatik Indonesia dan Belanda melalui Jembatan Persahabatan Bukittinggi–Amsterdam”. Menghadirkan Menteri Kebudayaan RI \u003Cstrong>Fadli Zo\u003C/strong>n dan Duta Besar Belanda untuk Indonesia, seminar ini menjadi tonggak penting dalam membangun ulang hubungan historis antara Bukittinggi, &nbsp;yang dulu bernama Fort de Kock di bawah pemerintahan Belanda&nbsp; dengan kota Amsterdam.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Seminar ini akan menjadi ruang refleksi atas hubungan sejarah yang pernah menghubungkan kedua bangsa, sekaligus membangun kerja sama budaya yang lebih erat di masa depan. Pada malam harinya, kawasan Jam Gadang berubah menjadi panggung budaya terbuka melalui Jam \u003Cem>Gadang Cultural Night\u003C/em> yang menghadirkan perpaduan musik tradisional, tarian Minangkabau, dan permainan cahaya yang memukau. Di bawah menara yang telah berusia satu abad itu, masyarakat dan tamu dari berbagai negara akan &nbsp;merayakan warisan budaya yang terus hidup dan berkembang.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Perayaan akan ditutup dengan Festival Kuliner Tradisional yang menampilkan beragam hidangan khas Minangkabau dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Rendang, nasi kapau, lamang tapai, serta aneka jajanan tradisional menjadi bagian dari perayaan yang memperlihatkan kekayaan budaya Minangkabau melalui cita rasa. Momen yang paling dinanti adalah sarapan gratis untuk 20.000 orang di kawasan Jam Gadang sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan kecintaan masyarakat terhadap ikon kota yang telah menemani perjalanan mereka selama satu abad.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Peringatan 100 Tahun Jam Gadang bukan sekadar perayaan usia sebuah bangunan. Lebih dari itu, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya memiliki peran penting dalam membentuk identitas suatu bangsa. Selama seratus tahun, Jam Gadang telah berdiri sebagai penanda waktu, saksi sejarah, simbol perjuangan, dan pusat kehidupan masyarakat. Kini, di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, menara itu tetap tegak sebagai lambang keteguhan budaya Minangkabau dan semangat masyarakat Bukittinggi dalam menjaga warisan leluhur. Seratus tahun telah berlalu, namun detak Jam Gadang akan terus menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">\u003C/p>\u003Cimg src=\"\" alt=\"\">\u003Cp>\u003C/p>","2026-06-18 09:01:14","2026-07-07 12:20:44","brsi0240","44",[107],{"url":108,"caption":109,"details":74,"created_at":102,"updated_at":110,"deleted_at":11},"https://berkas.cloud-idn.kotakkreasi.com/cmsbmk/2026/06/18/zrbmakolsiwcpxefvdgquhyt20260618085646.png","100 tahun Jam Gadang Padang","2026-06-21 16:39:05",{"title":112,"date":113,"slug":114,"content":115,"created_at":116,"updated_at":103,"deleted_at":11,"author":73,"author_title":84,"hashid":117,"category_hashid":65,"tag_hashid":66,"visitor":118,"category_name":68,"tag_name":69,"media":119},"Hari Purbakala Nasional 2026: Mengenal Warisan Budaya dari Lingkungan Terdekat","2026-06-14 00:00:00","hari-purbakala-nasional-2026-mengenal-warisan-budaya-dari-lingkungan-terdekat","\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Setiap daerah memiliki cerita. Sebagian diwariskan melalui tradisi dan ingatan kolektif masyarakat, sebagian lainnya tersimpan dan diwariskan &nbsp;melalui &nbsp;museum, situs purbakala, bangunan bersejarah, prasasti, hingga kawasan cagar budaya yang masih dapat kita jumpai hingga hari ini. Melalui tema \u003Cstrong>\"Museum dan Cagar Budaya di Daerahku\"\u003C/strong>, Hari Purbakala Nasional 2026 mengajak masyarakat untuk melihat kembali warisan budaya yang ada di sekitarnya sebagai bagian penting dari identitas dan perjalanan bangsa.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Sering kali purbakala dipahami sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, seolah hanya dapat ditemukan di situs-situs terkenal atau menjadi kajian para ahli. Padahal, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki jejak sejarah dan peradabannya sendiri. Jejak tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari situs arkeologi, kompleks percandian, bangunan bersejarah, museum daerah, hingga benda-benda budaya yang menjadi saksi perjalanan masyarakat setempat. Kehadiran warisan budaya tersebut menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya hidup dalam buku pelajaran, tetapi juga berada di sekitar kita dan menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat masa kini.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks itulah museum dan cagar budaya memiliki peran yang sangat penting. Keduanya menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Melalui koleksi yang disimpan dan informasi yang disajikan, masyarakat dapat memahami bagaimana kehidupan berkembang dari waktu ke waktu. Benda-benda yang tampak sederhana seperti alat batu, gerabah, arca, atau prasasti sesungguhnya menyimpan informasi berharga mengenai teknologi, kepercayaan, sistem sosial, hingga kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungannya. Museum dan cagar budaya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi juga menjadi ruang belajar yang memungkinkan masyarakat mengenali akar sejarahnya sekaligus memahami proses panjang terbentuknya peradaban.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Pemahaman terhadap masa lalu itu terus berkembang seiring dengan penelitian yang dilakukan para ahli. Di tengah perkembangan zaman, warisan budaya Indonesia masih terus menghadirkan pengetahuan baru yang memperkaya pemahaman kita tentang perjalanan manusia. Salah satu temuan yang menarik perhatian dunia adalah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2026 mengenai lukisan cap tangan di Goa Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Lukisan cadas tersebut diperkirakan berusia setidaknya sekitar 67.800 tahun dan menjadi salah satu karya seni nonfiguratif tertua yang pernah ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah Indonesia telah menjadi ruang kreativitas manusia sejak puluhan ribu tahun lalu serta memperkuat posisi Nusantara sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah perkembangan seni manusia purba.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Temuan tersebut melengkapi penelitian sebelumnya di kawasan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang mengungkap keberadaan lukisan naratif berusia sekitar 51.200 tahun. Lukisan itu dianggap sebagai salah satu bukti tertua kemampuan manusia untuk menyusun cerita melalui gambar. Kedua temuan tersebut memberikan gambaran bahwa manusia yang hidup di Nusantara pada masa prasejarah tidak hanya mampu bertahan hidup, tetapi juga telah memiliki kemampuan berpikir simbolik, berimajinasi, dan mengekspresikan gagasannya melalui karya seni.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Perjalanan panjang peradaban Nusantara tidak berhenti pada masa prasejarah. Memasuki tradisi megalitik, berbagai tinggalan budaya menunjukkan bagaimana masyarakat masa lampau mulai membangun ruang-ruang ritual dan simbol-simbol yang mencerminkan sistem kepercayaan mereka. Salah satu contoh penting adalah Situs Megalitik Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Situs yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional ini dikenal sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara dan menjadi salah satu situs megalitik paling terkenal di Indonesia.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Gunung Padang menunjukkan bagaimana sebuah cagar budaya dapat terus menghadirkan ruang penelitian sekaligus ruang pembelajaran bagi masyarakat. Berbagai kajian arkeologi, geologi, dan geofisika telah dilakukan untuk memahami sejarah pembentukan situs tersebut. Meskipun sejumlah aspek mengenai usia dan proses pembangunannya masih menjadi bahan diskusi ilmiah, Gunung Padang memperlihatkan betapa besar potensi warisan budaya Indonesia yang masih menyimpan banyak informasi mengenai kehidupan masyarakat masa lampau. Kehadiran situs ini juga mengingatkan bahwa cagar budaya bukan hanya milik para peneliti, melainkan warisan bersama yang dapat menjadi sarana edukasi dan penguatan identitas budaya masyarakat.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Jejak peradaban Nusantara kemudian berkembang semakin kompleks pada masa kerajaan Hindu-Buddha. Berbagai penelitian dan ekskavasi yang dilakukan di Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa masih banyak pengetahuan yang dapat digali dari situs-situs yang telah lama dikenal masyarakat. Ekskavasi di kawasan Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto, misalnya, menemukan struktur pagar kuno dan ruang suci yang mengindikasikan keberadaan kompleks keagamaan yang lebih luas daripada yang selama ini diketahui. Sementara itu, penelitian di Situs Adan-Adan, Kabupaten Kediri, mengungkap berbagai artefak seperti arca Buddha, fragmen stupa, dan komponen arsitektur yang menunjukkan adanya pusat kegiatan keagamaan penting pada masa lampau.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Berbagai temuan tersebut memperlihatkan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan yang diam dan tak berubah. Sebaliknya, setiap situs dan koleksi museum masih menyimpan potensi pengetahuan yang dapat terus digali untuk memahami perkembangan masyarakat dari masa ke masa. Dari lukisan cadas di Sulawesi, tradisi megalitik di Jawa Barat, hingga kompleks percandian di Jawa Timur, semuanya merupakan bagian dari mozaik besar sejarah Nusantara yang saling terhubung.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kesadaran akan pentingnya warisan budaya inilah yang menjadi semangat Hari Purbakala Nasional 2026. Upaya pelindungan yang dilakukan pemerintah melalui penetapan ratusan Cagar Budaya Peringkat Nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan besarnya kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia sekaligus pentingnya langkah pelestarian yang berkelanjutan. Namun, pelestarian tidak dapat dilakukan oleh pemerintah dan para ahli semata. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberlangsungan museum dan cagar budaya.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Mengunjungi museum daerah, mengikuti kegiatan edukasi budaya, mempelajari sejarah lokal, hingga menjaga kebersihan dan kelestarian situs merupakan bentuk partisipasi nyata yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Tema \u003Cstrong>\"Museum dan Cagar Budaya di Daerahku\"\u003C/strong> pada akhirnya mengajak kita untuk memulai dari yang terdekat. Warisan budaya tidak selalu berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Di sekitar kita terdapat museum, situs sejarah, bangunan bersejarah, dan kawasan cagar budaya yang menyimpan kisah tentang perjalanan masyarakat setempat. Dengan mengenali dan mengunjungi warisan budaya di daerah masing-masing, kita tidak hanya belajar tentang masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana identitas daerah dan bangsa terbentuk dari waktu ke waktu.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, menjaga museum dan cagar budaya bukan sekadar merawat peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga ingatan kolektif bangsa. Melalui warisan budaya, kita dapat memahami perjalanan panjang peradaban Nusantara, menghargai pencapaian generasi terdahulu, serta mewariskan pengetahuan yang berharga kepada generasi mendatang. Sebab, di balik setiap artefak, situs, dan bangunan bersejarah, tersimpan kisah tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kebudayaan Indonesia terus berkembang hingga hari ini.\u003C/p>","2026-06-15 13:46:19","hbmu0239","31",[120],{"url":121,"caption":122,"details":74,"created_at":116,"updated_at":116,"deleted_at":11},"https://berkas.cloud-idn.kotakkreasi.com/cmsbmk/2026/06/15/zenmflqtgucriabpojsyhdkw20260615134001.png","Lukisan cadas di Gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai seni naratif (storytelling) tertua di dunia",{"title":124,"date":125,"slug":126,"content":127,"created_at":128,"updated_at":103,"deleted_at":11,"author":62,"author_title":63,"hashid":129,"category_hashid":65,"tag_hashid":130,"visitor":131,"category_name":68,"tag_name":132,"media":133},"Terkenang-kenang Kelap Kelip Kuning Kunang-kunang","2026-06-05 00:00:00","terkenang-kenang-kelap-kelip-kuning-kunang-kunang","\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kunang-kunang merupakan jenis seranggga yang memiliki kemampuan mengeluarkan cahaya pada saat gelap atau lebih sering tampak bercahaya ketika malam hari. Kunang-kunang termasuk ke dalam golongan \u003Cem>Lampyridae\u003C/em> yang berasal dari famili dalam ordo kumbang Coleoptera (Rahayu, 2007). Ia berkerabat dengan kumbang kelapa atau kutu beras- hanya berbeda keluarga, kunang-kunang tergolong keluarga \u003Cem>Lampyridae\u003C/em>. Ada lebih dari 2000 spesies kunang-kunang, yang dapat ditemukan di daerah empat musim dan tropis di seluruh dunia. Dari 2000-an lebih jenis kunang-kunang, sebagian besar ditemukan hidup di daerah tropis termasuk Indonesia. Meskipun populasi di Indonesia tersebut besar, tetapi lama kelamaan karena kurangnya tanaman atau hutan di suatu habitat tersebut, maka keberadaan kunang kunang menjadi terancam (Subali, 2013).\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kunang-kunang merupakan hewan yang unik dan berperan sebagai bio-indikator yang signifikan, mencerminkan kesehatan lingkungan mereka. Sensitivitas mereka terhadap perubahan lingkungan menjadikannya sangat berharga dalam memantau kesehatan ekosistem dan mendeteksi polusi. Kunang-kunang berfungsi sebagai bio-indikator penting karena kepekaannya yang tinggi terhadap perubahan lingkungan, termasuk kualitas air, polusi cahaya, dan polutan kimia. Misalnya, kunang-kunang akuatik terpengaruh oleh kontaminan seperti \u003Cem>benzo(a)pyrene\u003C/em>, yang mengubah ekspresi gen terkait kekebalan dan metabolisme, sehingga menjadikannya indikator yang berharga bagi kesehatan ekosistem perairan. Selain itu, cahaya buatan di malam hari (\u003Cem>Artificial Light at Night/\u003C/em>ALAN) mengganggu perilaku alami dan siklus hidup kunang-kunang, dengan penelitian menunjukkan bahwa intensitas ALAN yang bervariasi dapat mengurangi populasi larva dan dewasa, menegaskan peran mereka sebagai indikator polusi cahaya. Kunang-kunang di habitat riparian juga merespons perubahan kualitas air, khususnya permintaan oksigen biokimia (BOD) dan kadar amonia-nitrogen, yang mencerminkan keberadaan polutan organik dalam badan air (Darmawan, 2025)\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kunang-kunang juga menjadi indikator penting bagi keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem, dengan penurunan populasinya sering kali menandakan masalah lingkungan yang lebih luas seperti hilangnya habitat dan perubahan iklim. Misalnya, penurunan populasi kunang-kunang di Andhra Pradesh, India, selama dua dekade terakhir menunjukkan dampak degradasi lingkungan. Perubahan iklim juga memengaruhi populasi kunang-kunang, karena suhu dan curah hujan memengaruhi siklus hidup dan dinamika populasinya. Model Degree-Day, yang memprediksi fenologi kunang-kunang berdasarkan suhu, memberikan wawasan tentang efek perubahan iklim ini. Selain itu, kunang-kunang berperan penting dalam menjaga kesehatan ekosistem dengan memangsa invertebrata kecil dan menjadi sumber makanan bagi spesies lain. Kehadiran mereka di habitat berkualitas tinggi, seperti perairan yang tenang dan jenis vegetasi tertentu, semakin menegaskan signifikansi ekologis mereka (Darmawan, 2025)\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Melihat kenyataan penting betapa peran kunang-kunang di lingkungan dapat menjadi penanda sehat atau tidaknya lingkungan tempat manusia hidup saat ini, maka apabila kita bertanya kembali, kapan terakhir kali kita melihat kunang-kunang di tempat tinggal kita? 10, 20, atau 30 tahun silam semasa kita kecil di tempat yang sama atau jika sekarang mungkin perlu pergi ke desa terlebih dahulu untuk melihat kunang-kunang? Isu global tentang lingkungan hidup yang perlahan rusak hingga tidak layak lagi didiami oleh hewan-hewan kecil seperti serangga sebetulnya telah menjadi sinyal nyata bahwasanya lingkungan tempat tinggal manusia terutama di perkotaan sudah rusak sedemikian parah. Kelangkaan perjumpaan kita dengan hewan-hewan yang kehilangan habitatnya serta tumbuhan yang sudah tidak cocok dengan lingkungan yang sedemikian masif dirambah oleh manusia pada akhirnya akan menambah deretan hewan dan tumbuhan langka yang harus dilindungi. Vegetasi buatan yang perlahan menggantikan vegetasi alami semata-mata menjadi penundaan sementara sebelum hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan tersebut punah pada akhirnya karena sudah lepas dari habitat dan vegetasi alaminya.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kanal Budaya IndonesianaTV yang memiliki maksud dan tujuan melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia yang beragam kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri melalui penayangan program-program yang mengangkat berbagai aspek budaya Indonesia, seperti kesenian, adat istiadat, tradisi, sejarah, dan lingkungan tempat budaya tersembut tumbuh dan berkembang. Kanal Budaya IndonesianaTV ingin meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang budaya Indonesia melalui penayangan program-program edukatif dan informatif yang dikemas dengan menarik dan mudah dipahami oleh semua kalangan.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Konten-konten kebudayaan yang terkait dengan isu-isu lingkungan hidup serta upaya pelestariannya serta memiliki tema tenang kunang-kunang yang saat ini ada di platform IndonesianaTV adalah \u003Cstrong>“Lintang &amp; Kunang-kunang”\u003C/strong>. Konten ini menceritakan tentang seorang anak bernama Lintang yang memiliki kisah tersendiri di balik penamaan nama Lintang yang disematkan, dimana semuanya terinspirasi dari kilauan cahaya dari kunang-kunang. Didorong rasa penasarannya yang minim informasi tentang hewan kunang-kunang yang belum pernah dilihatnya selama hidup, Lintang mengajak kawan-kawannya untuk bersama-sama membersihkan lingkungan rumahnya agar dapat mengundang kembali hadirnya kunang-kunang seperti sedia kala.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">&nbsp;\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">\u003Cstrong>Referensi\u003C/strong>\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Darmawan, I Gede Surya dkk. 2025. Perencanaan Masterplan Kawasan Konservasi Kunang-kunang&nbsp; dengan Pendekatan Arsitektur Adaptif di Desa Taro, Kabupaten Gianyar Universitas Warmadewa. Denpasar.\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Subali, Bambang dkk. 2013 Analisis Sifat Biologi, Kimiawi dan Fisika tentang Kunang-kunang (\u003Cem>Lampyridae\u003C/em>). Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Kajian IPA Fisika. Bandung\u003C/p>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">&nbsp;\u003C/p>","2026-06-05 12:39:26","alnu0236","sckg0036","47","lingkungan",[134],{"url":135,"caption":136,"details":74,"created_at":128,"updated_at":137,"deleted_at":11},"https://berkas.cloud-idn.kotakkreasi.com/cmsbmk/2026/06/05/vduskzawcpfbxlniogyertjq20260605123612.jpg","Tangkapan layar adegan dalam film Lintang dan Kunang-Kunang di Indonesiana.TV","2026-06-05 12:44:33",{"current_page":139,"per_page":140,"from":139,"to":140,"total":141,"last_page":142},1,5,81,17,1783401820824]